Perjalanan wisata ke desa agrobudaya Sirna Resmi

Assalamulaikum.

Akhir bulan Mei 2015 , suami mengajak liburan bersama teman2 SMEA nya ke desa Sirna Resmi. Desa Sirna Resmi adalah desa terpencil yg terletak di kecamatan Cisolok , kabupaten Sukabumi. Rombongan berangkat tengah malam dg harapan gak terkena kemacetan tapi apa daya di tengah jalan tepatnya di daerah Ciawi sampai Parung Kuda terkena kemacetan juga karena ada perbaikan jalan. Hehe nasib nasib. Kami melewati daerah Cikidang yg wuih jalannnya berkelok kelok tajam. Yg gak biasa bakal mabuk perjalanan deh. Perjalanan berlanjut sampai di Pantai Pelabuhan Ratu dg gelombang lautnya yg menawan & mitos Nyi Roro Kidulnya. Kupikir udah mau nyampe eh ternyata perjalanan masih jauh & menempuh jalan yg berkelok2 lagi. Mabuk maning mabuk maning. Yg gak tahan sama jalan yg berliku2 bisa melewati Cibadak untuk mencapai Pelabuhan Ratu

Singkat cerita tibalah rombongan di desa tsb.Menurut cerita suami, desa itu dipimpin oleh Ketua adat yg bernama Abah Asep dimana istrinya adalah teman sekolah suamiku saat SMEA. Temannya itu bernama Nur Hasanah , sekarang dipanggil jd Ambu Dulu sejak kecil,dia sudah berprofesi jadi artis film meski masih skala figuran. Nah suatu saat Nur Hasanah syuting di desa tsb & bertemulah dg sang “Putra mahkota”. Sang “Putra mahkota” pun tertarik & akhirnya menikah. Awalnya putra mahkota yg bernama Asep gak berminat menjadi pengganti orang tuanya sbg ketua adat bahkan dia menyarankan agar uwaknya saja yg menggantikan. Tapi setelah ayahnya sakit keras & Abah Asep mendapat “wangsit” akhirnya beliau bersedia menerima “tahta” sebagai ketua adat Sirna Resmi. Sang Ambu juga awalnya gak mau jadi “permaisuri” di dusun yg terpencil. Wajar duong. Biasa hidup di kota besar tiba2 harus menyepi kayaknya gimana geto. Bahkan Ambu mempersilakan sang suami jika ingin menikah lagi.Tapi dg keuletan & kekuatan cinta Abah Asep cie cie , akhirnya Ambu pun luluh & bersedia diboyong ke desa sunyi meninggalkan hiruk pikuk ibu kota hingga sekarang. Hebat euy.

Inilah rumah Abah Asep yg menjadi rumah ketua adat dimana para tamu biasa menginap

DSCN01262015-05-31 07.04.21IMG20150531072516IMG20150531064746

Foto bersama Abah Asep & Ambu Nur Hasanah

Rumah penduduk termasuk rumah Abah dindingnya terbuat dari bilik bambu, lantainya dari kayu.Listrik sudah ada & penduduknya banyak yg punya parabola meski rumahnya sederhana. Hebat euy, rumahku aja gak punya parabola. Hehe. Kok bisa?  Wajar penduduk di sana punya parabola. Kalo gak punya parabola, mereka gak bisa nonton acara tipi karena kampung mereka dikelilingi sama gunung. Begitu coy.

Di rumah Abah tersedia 4 kamar buat tamu. Yg gak kebagian kamar bisa tidur lesehan di ruang tamu , atau di teras rumah tempat kami foto2. Kalo gak kebagian juga ya tidur di bawah rumah / panggung. Hehe. Oya rumah penduduk berbentuk panggung seperti yg ada di foto. Alasannya dulu di bawah panggung dijadikan kandang hewan ternak seperti ayam , kambing. Nah sekarang dg alasan kesehatan , kandang hewannya di pindah ke tempat lain.

2015-05-30 10.31.572015-05-30 10.34.27

Tersedia 2 kamar mandi buat tamu yg airnya gakerhenti ngalir karena gak ada kerannya. Begitu juga di tempat cuci piringnya, airnya ngucur terus. Aku tanya ke “abdi dalemnya” kok gak dimatiin airnya. Ibu tsb cuma senyam senyum.Pertama kupikir, nih orang kok mubazir amat sih.  Gak sayang apa air dibuang2. Eh ternyata air yg mengalir ke rumah penduduk itu bukan berasal dari air tanah yg dipompa pake pompa air dari listrik tapi berasal dari hutan di gunung yg disalurkan lewat pipa2 ke rumah & sawah. Hem pantes kalo gitu. Tapi mang gak bisa ya dipasang keran biar gak terbuang.

Secara administratif penduduk beragama Islam tapi dalam kesehariannya  kehidupan sehari-hari pelaksanaan kegiatan keagamaannya masih didominasi kepercayaan terhadap adat dan tradisi nenek moyangnya (tatali paranti karuhun). Konsep atau pandangan hidupnya lebih menitikberatkan pada adat dan tradisinya ketimbang merujuk pada sumber utama agamanya (Al-Quran). Dalam hal ini, perenungan atas alam semesta telah membawa mereka pada kesimpulan alam semesta merupakan sistem yang teratur dan seimbang.
Keteraturan dan keseimbangan alam semesta merupakan sesuatu yang mutlak. Adanya malapateka atau bencana menurut pandangan warga kasepuhan adalah sebagai akibat keseimbangan dan keteraturan alam semesta terganggu. Oleh karena itulah tugas utama manusia adalah memelihara dan menjaga keseimbangan hubungan berbagai unsur yang ada di alam semesta ini.

Contohnya adalah kegiatan bertani yg unik. Penduduk hanya menanam padi 1 kali dalam setahun. Saat ku tanya ke Abah kenapa gitu. Beliau menjawab tanah ibarat seorang ibu. Gak ada seorang ibu yg dalam setahun melahirkan 2 atau 3 kali. Artinya apa ayo? Artinya nenek moyang kite dari zaman dulu itu gak rakus. Mereka sengaja memberi kesempatan kepada tanah untuk mengembalikan kesuburannya seperti semula setelah ditanami padi. Jika dah musim panen padi maka sawah ditanami tanaman lain atau istilah kerennya pergiliran tanaman..Pada saat akan memulai menanam padi baik di sawah maupun di ladang, sesepuh girang bersama para pembantunya berziarah ke makam nenek moyangnya yang berada di daerah Bogor Selatan dan Banten Selatan. Di hadapan pusara, sesepuh girang memanjatkan doa amit.
Pada malam harinya, dilakukan upacara selamatan di rumah sesepuh girang yang dihadiri oleh para tokoh adat dan segenap sesepuh kampung. Dalam hal menanam padi , mereka hanya menggunakan padi bibit lokal yg jumlahnya gak kurang dari 60 jenis. Membajak sawah dg menggunakan jasa kerbau , gak pake pupuk & pestisida & saat memanen memakai ani2

Di desa tsb tiap kepala keluarga mempunyai lumbung padi yg disebut leuit

IMG201505301031482015-05-30 09.54.21
Upacara-upacara yang berkaitan dengan kegiatan bercocok tanam adalah : upacara membuka ladang, upacara ngaseuk, upacara mipit/nyalin (upacara pendahuluan sebelum dilakukan panen pertama), upacara seren taun (upacara adat pasca panen), upacara nganyaran (makan nasi yang pertama kali dari hasil panen), dan upacara ngahudangkeun (membangunkan padi yang telah didiukeun di dalam leuit sebelum dipergunakan oleh pemilik leuit).

Banyak kebiasaan & aturan yg unik di desa ini setelah panen dimana aturan tsb sudah berlaku ratusan tahun.

1. Padi setelah panen gak bisa langsung masuk ke lumbung tiap keluarga tapi harus dikeluarkan dulu istilah adatnya jekat (kalo dalam Islam namanya zakat) sebesar 10% dari hasil panen yg nanti akan dibagikan kepada warga yg berhak

2. Padi gak digiling tapi ditumbuk. Kalo secara kesehatan malah bagus loh karena vitamin B nya gak ilang

3. Beras hasil panen gak boleh diperjualbelikan

Aku bertanya kepada Abah , apakah hanya dengan panen setahun sekali bisa mencukupi kebutuhan warga selama setahun?  Ambu menjawab bisa malah lumbung Abah bertambah terus. Subhanalallah. Itulah berkah dari zakat & sikap tak tamak yg terus dijaga sampai sekarang shg alam pun bersahabat dg kita. Penduduk desa yg dipimpin Abah biasanya setahun 3 kali melakukan acara berburu ke hutan tapi aku lupa kapan aja. Sepertinya salah satunya setelah panen. Hewan yg biasanya didapat dari hutan antara lain kambing hutan , trenggiling , landak

Berikut video2 yg berkaitan dg desa Sirna Resmi & upacara bercocok tanam yg bisa dinikmati. Silakan menyaksikan

Advertisements

2 thoughts on “Perjalanan wisata ke desa agrobudaya Sirna Resmi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s